| Besuki Timur yang di Luar Peta |
|
|
| Programme Report |
|
Sebelum terjadinya bencana lumpur panas, Desa Besuki, Kecamatan Jabon adalah satu kesatuan yang utuh. Secara geografis memang ada bagian Desa yang terletak di sebelah barat (bekas) tol Surabaya-Gempol dan ada yang terletak di sebelah timur to. Menurut pengakuan warga, antara penduduk di sebelah barat tol dan sebelah timur tol sangat banyak terdapat hubungan kekerabatan. Hal ini dapat dimaklumi karena Desa Besuki memiliki umur yang lebih tua dibandingkan dengan jalan tol. Jalan tol Surabaya-Gempol dibangun pada tahun 1982, sementara Desa Besuki sudah ada jauh sebelum itu. Sekarang ini Desa Besuki terpecah ke dalam dua bagian. Terutama karena Peraturan Presiden Nomer 48 Tahun 2008 yang menempatkan Desa Besuki yang terletak di sebelah barat jalan tol, selanjutnya akan disebut Besuki Barat, masuk ke dalam peta area terdampak, sedangkan Desa Besuki yang terletak di sebelah timur tol, selanjutnya akan disebut Besuki Timur, tidak termasuk ke dalam peta arera terdampak.
Sawah di Desa Besuki sebelah timur jalan tol Surabaya-Gempol yang sudah tidak bisa ditanami padi karena pernah terendam lumpur panas. Garis lurus batas horizon di kejauhan adalah tanggul lumpur lapindo.
Padahal, faktual Desa Besuki Timur adalah salah satu desa yang mengalami dampak langsung dari bencana lumpur. Dalam surat yang ditandatangani oleh tiga kepala desa yaitu M Shirot (Kepala Desa Besuki), Abd. Rosyid (Kepala Desa Kedungcangkring), dan Muji Raharjo (Kepala Desa Pejarakan) tertanggal 21 Juli tahun 2008 yang ditujukan kepada Bupati Sidoarjo melalui Camat Jabon, dinyatakan bahwa 7 RT di Dusun Besuk Timur telah tiga kali terkena dampak luberan lumpur. Yaitu pada tanggal 16 Agustus 2006, tanggal 15 September 2006 dan pada tanggal 10 Februari 2008. Akibat masuknya lumpur panas ke Desa Besuki Timur, maka sebanyak 28 hektar sawah di Desa Besuki Timur sudah tidak bisa ditanami lagi karena tertimbun lumpur. Dampak lain yang timbul karena adanya lumpur panas adalah tercemarnya udara di Desa Besuki Timur. “Udara sudah terkontaminasi. Terkontaminasi bau lumpur, di udara terutama. Kalau angin dari barat, baunya otomatis ke timur. Sementara memang angin dari timur yang sering, kalau angin dari barat baunya sangat menyengat. Apa itu sehat atau tidak, kita orang awam tidak tahu,” kata Haji Syaiful, salah seorang warga. Selain pencemaran udara, juga terjadi pencemaran air tanah. Sebelum terjadinya bencana lumpur panas, warga memakai air tanah yang dipompa dari sumur-sumur mereka. Akan tetapi sejak terjadinya bencana lumpur, warga merasa bahwa air tanah dari sumur-sumur mereka sudah tidak aman untuk dipakai memasak dan minum. Air tanah hanya bisa dipakai untuk mencuci. Sementara untuk kebutuhan minum mereka dapatkan dari tandon air yang diisi secara tidak teratur berdasarkan donasi dari orang-orang yang simpati. Kalau tidak ada sumbangan dari orang yang simpati, dan ini lebih sering terjadi, maka warga membeli air dari penjual air keliling. Satu jerigen air bersih isi 25 liter dibeli dengan harga Rp. 1.200,- per jerigen. Seberapa banyak satu keluarga mengkonsumi air yang dibeli, tergantung pada jumlah anggota keluarga. Secara psikologis warga Desa besuki Timur juga sekarang hidup dalam ketakutan karena mereka tinggal terlalu dekat dengan area terdampak dan tanggul di sebelah barat Desa. Warga merasa sudah tidak aman dan nyaman tinggal di Desa mereka. “Kalau musim hujan, bagaimana kalau sewaktu-waktu ada tanggul yang jebol?” salah seorang warga mempertanyakan. Ketakutan itu juga tereksperesikan dari sikap siaga beberapa orang warga yang sampai sekarang masih tetap menitipkan barang-barangnya di rumah familinya yang terletak di desa yang jauh dari tanggul lumpur. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Pak Reskul, dari tahun 2006 sampai sekarang, setengah dari perabot rumahnya masih berada di salah satu rumah familinya yang terletak di Kejapanan. Di bidang ekonomi dampak yang dirasakan oleh warga Besuki Timur juga sangat nyata. Sebut saja usaha hand tractor dan penjulan daging ayam potong milik Pak Syaiful. Sebelum lumpur ia memiliki 4 hand tractor, sekarang tinggal 2 dan itupun kesulitan mencari konsumen, karena sawah makin sedikit. Sementara hand tractor dari desa lain yang sudah tenggelam seperti Renokenongo, Kedungbendo, Siring dan Jatirejo, berpindah ke arah Besuki. Usaha ayam potongnya sendiri mengalami kemunduran. “Sebelum ada lumpur, omzet saya sehari 100 kg, sekarang sekita 60-70 kg per hari,” ujarnya. Bosman Batubara |
Newsroom Lainnya
| 03.09.2010 Pendampingan Koperasi Sawo Kecik: Satu Bulan Bersama Sutarmanto |
| 01.09.2010 Forum Periset Porong |
| 16.08.2010 Pelatihan Manajemen Koperasi |
| 17.02.2010 SAWO KECIK Koperasi Perempuan Korban Lumpur |
| 08.02.2010 Gus Dur: Jangan Jual Tanahmu! |
Jl. Dayu Baru No. 1A
Sleman Indonesia - 55581
t. 0274 - 888726
e. kantor@lafadl.org
w. www.lafadl.org













