Resume Diskusi Jurnal Disastrum Print E-mail
10 September 2009
Resume

Pembicara: Erwin Endaryanto dan Hasan Bahtiar.

Diskusi diawali dengan pengantar dari koordinator Lafadl Initiatives (Heru Prasetia) tentang mengapa Lafadl menerbitkan jurnal mengenai bencana. Lafadl memandang bahwa bencana, baik bencana alam maupun bencana yang diciptakan manusia, adalah  bagian dari ketidakadilan global dan bahwa bencana juga menerbitkan ketidakadilan global yang lebih parah. Bencana alam yang bermunculan akibat perubahan iklim tidak bisa tidak mesti dikaitkan dengan keberadaan negara-negara industri maju sebagai penghasil emisi terbesar. Terlebih, negara-negara tersebut tidak mau melaksanakan kewajiban  mengurangi emisi dan malah menggeser fokus protokol Kyoto untuk memaksa negara-negara miskin menanggung beban pengurangan emisi.

Bencana juga membuka pintu yang begitu lebar untuk masuknya kapital ke negara-negara berkembang. Aliran kapital ini dengan mudah bertransformasi menjadi pola ketergantungan yang akut. Hasan Bahtiar, redaktur Disastrum, menambahkan bahwa persoalan bencana juga harus dilihat dari aspek-aspek yang bersifat ideologis dan melampaui perdebatan tentang apakah sebuah bencana harus disikapi sebagai bagian yang tak terelakkan atau tidak. Kasus Lumpur lapindo, misalnya, mestinya tidak perlu diperdebatkan lagi apakah itu diakibatkan fenomena alam atau karena kesalahan manusia. Pertanyaan paling mendasar untuk kasus itu adalah: menegapa pemerintah memberi ijin pengeboran di kawasan yang padat penduduk? Wacana dan percakapan semacam inilah yang hendak dibangun oleh Jurnal Disastrum.

Erwin Hendariyanto (kedua dari kiri) menyampaikan materi diskusi bertema "Industrial Disaster dalam Eksplorasi Sumber Daya Air di Klaten," Senin, 31 Agustus 2009.

Salah satu tulisan dalam Jurnal Disastrum edisi perdana adalah tulisan Erwin Endaryanto yang berjudul “Risiko Bencana Industrial dalam privatisasi Sumber Air Si-Gedhang – Klaten.” Pada diskusi sore itu, Erwin memaparkan tulisannya tersebut. Di Indonesia, masalah privatisasi merupakan isu yang sensitif, karena masyarakat Indonesia dekat dengan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Akibatnya, jika terjadi privatisasi akan mengubah tatanan sosial yang ada dalam masyarakat. Solusi yang tepat untuk mengantisipasi masalah privatisasi ini adalah dengan memberlakukan regulasi yang tepat.Perusahaan multi nasional yang memonopoli mata air salah satunya adalah Aqua. Aqua mengeksplorasi mata air di daerah Klaten. Bencana industri yang terjadi di Klaten beresiko mengubah tatanan dalam masyarakat, dengan regulasi akan meminimalisir resiko yang ada. Masyarakat Klaten menempatkan Air sebagai sebuah modal kultural. Akibat privatisasi yang dilakukan akan mereduksi kualitas dan kuantitas mata air yang ada. Selain itu juga ada perubahan sistem yang ada dalam masyarakat. Sebelum ada Aqua air bagi masyarakat sekitar merupakan komoditas yang tidak bernilai ekonomi. Akan tetapi setelah adanya Aqua, air meruapakan sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi, dengan kata lain terjadi proses industrialisasi.

Hasan Bachtiar (kiri), pembicara kedua, menyampaikan tanggapan atas materi yang disampaikan Erwin Hendariyanto.

Dalam diskusi muncul pertanyaan-pertanyaan berikut: “Apa batasan tema yang di usung Disastrum?” Hasan menjelaskan bahwa ketika membaca Disastrum kita akan paham dengan sendirinya tema spesifik yang diangkat Disastrum. Yang pasti Disastrum mengangkat bencana bukan sebagai natural disaster, melihat bencana secara konvensional. Disastrum berusaha menempatakan bencana dalam lingkup perbincangan ekonomi dan politik. Contoh nyata Bencana Lumpur Lapindo bukan semata-mata bencana akibat alam semata atau kesalahan pengeboran. Bencana yang dimaksud di sini bukan hanya sesuatu yang datang tiba-tiba, yang hanya dipicu oleh alam, bencana ini juga dipicu ulah pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, bencana semacam ini bisa diminimalisir. Erwin menambahkan bahwa: kita tidak bisa menyalahkan alam semata-mata. Manusia harus mampu menanggulangi dan mencegah bencana dari awal. Bencana merupakan bagian dari proses alam. Dengan mengetahui dengan pasti potensi bencana yang ada, kita mampu merancang kehidupan yang dapat meminimalisir efek bencana.

Mengenai presentasi Erwin, pertanyaan yang datang adalah apakah tidak ada resistensi ketika terjadi industrialisasi dalam proses pergeseran air sebagai modal kultural bagi masyarakat Klaten? Menurut Erwin, dalam persoalan industrialisasi air di Klaten, terjadi tabrakan nilai yang ada dalam masyarakat. Resistensi yang timbul dalam masyarakat berupa beberapa reaksi, seperti aksi demo dan juga mengundang pakar untuk membicarakan persoalan ini. Resitensi juga muncul dari pemerintah, hal ini dipicu eksplorasi Aqua yang berlebihan dan melanggar perjanjian. H. Prasetia

Silahkan download Jurnal Disastrum Vol.1 No.1 Th.2009.